Saturday, February 6, 2016

Politik


Nama  : Muhammad mahmudi
NIM    : 18 2012 01010 159
Kelas   : G

  1. Politik dikatakan sebagai ilmu karena bersumber dari teori, pengalaman serangkaian percobaan. Sementara seni karena mempelajari tentang bagaimana mengelola sebuah negara.
  2. Sejarah adalah deskriptif kronologis ttg peristiwa/ kejadian konkret pada zaman silam.  Perbedaan pandangan ahli sejarah selalu meneropong masa yang lampau. Ahli ilmu politik lebih melihat ke depan (future oriented). Fakta sejarah merupakan dasar untuk memperkirakan perkembangan yang akan datang. Sejarah dipakai oleh sarjana ilmu politik untuk menemukan pola-pola untuk menentukan keputusan, peramalan, dan proyeksi  untuk masa depan.
  3. A. de jure adalah diakui oleh dunia internaional, atau dapat dikatakan pengakuan terhadap sahnya suatu negara menurut hukum internasional. de facto adalah pengakuan berdasarkan kenyataan (fakta) dan bisa bersifat sementara.
B. untuk memperoleh pengakuan tersebut maka sebuah negara harus memenuhi unsur berdirinya sebuah negara. Yaitu: rakyat, wilayah, pemerintah yang berdaulat serta dasar negara.
  1. Benuk negara                          : Republik, Federal, Komunis.
Bentuk kepemerintahan          : Monarki, Kesatuan.
Sistem kepemerintahan           : Presidensil, parlementer.
  1. Menganut sistem parlementer dan presidensil
  2. Legislatif yang diduduki oleh MPR, DPR, DPD dan DPRD. Eksekutif diduduki oleh Presiden, Wakil Presiden dan Para Mentri. Yudikatif diduduki oleh MA dan MK.
  3. A. tidak, karena tidak semua penduduk indonesia ikut serta dalam demokrasi. Serta terbukti dengan adanya penyelewengan terhadap demokrasi baik pada masa orde lama, orde baru ataupun masa reformasi.
B. syarat demokrasi yaitu: 1). Pemerintahan berdasarkan konstitusi, 2). Pemilihan umum yang bebas jujur dan adil, 3). adanya jaminan HAM, 4). Persamaan penduduk didepan hukum, 5). Peradilan yang bebas dan tidak memihak, 6). Kebebasan berserikat, 7). Kebebasan pers.
  1. Demokrasi yang diterapkan diindonesia yaitu: 1) demokrasi parlementer, 2) demokrasi terpimpin 3) demokrasi pancasila 4) demokrasi orde reformasi sampai sekarang.

PENDEKATAN PENDIDIK TERHADAP PESERTA DIDIK



PENDEKATAN PENDIDIK TERHADAP PESERTA DIDIK

TUGAS INDIVIDUAL

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Pengembangan Kepribadian Guru PAI
Diampu oleh : Fathol Khaliq, M.Si

Disusun Oleh  :

MUHMMAD MAHMUDI
18201201010159



LOGO STAIN.jpg
 













SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI  PAMEKASAN
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
2012/2013

Dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung telah terjadi interaksi yang bertujuan. Guru dan anak didiklah yang mengerakkannya. Interaksi yang bertujuan itu disebabkan gurulah yang memaknainya dengan menciptakan lingkungan yang bernialai edukatif demi kepentingan anak didik dalam belajar. Guru ingin memberi layanan yang terbaik bagi anak didik, dengan menyediakan lingkungan yang menyenangkan dan menggairahkan. Guru berusaha menjadi pembimbing yang baik dengan peranan yang arif dan bijaksana, sehingga tercipta hubungan dua arah yang harmonis antara dua guru dengan anak didik.

Dari pernyataan di atas, bahwa guru sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar, maka guru perlu memahami hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai media, bahkan pendekatan-pendekatan dalam kegiatan belajar mengajar. Bahkan, guru harus mampu mensinyalirkan atau mentranfer ilmu pengetahuannya kepada peserta didik.
Guru bukan cuma sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar. Bahkan, guru harus mampu menanamkan sifat-sifat arif, bijaksana dan lainnya. Selain itu, guru harus menggairahkan peserta didik dengan pendekatan-pendekatan agar peserta didik senang terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
Ketika kegiatan belajar mengajar itu berproses, guru harus dengan ikhlas dalam bersikap dan berbuat, serta memahami anak didiknya dengan segala konsekwensinya. Semua kendala yang terjadi dan terdapat menjadi penghambat jalannya proses belajar mengajar, baik yang berpangkal dari prilaku anak didik maupun yang bersumber dari luar diri anak didik, harus guru hilangkan, dan bukan memberikannya. Karena keberhasilan belajar mengajar lebih banyak ditentukan oleh guru dalam mengelola kelas.
Guru harus mengelola kelas dengan baik, agar dalam proses kegiatan belajar mengajar para peserta didik bisa paham apa yang sudah dipelajari. Dengan pengelolaan yang baik akan menunjukan keberhasilan dalam proses kegiatan belajar mengajar. Bukan hanya pengelolaan saja, akan tetapati guru harus ikhlas dalam bersikap dan berbuat, ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Dalam proses belajar mengajar, peserta didik terkadang rentan dengan berbagai masalah, baik dalam pelajaran yang kurang disenangi atau memiliki permasalahan dari luar. Sehingga, guru harus mengetahui atas permasalahan yang dimiliki oleh peserta anak didik, agar dalam proses belajar mengajar bisa berjalan dengan normal dan dapat hasil yang maksimal.     
Dalam mengajar, guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana, bukan sembarangan yang bisa merugikan anak didik. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran.
Ada beberapa pendekatan yang harus dimiliki oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar dan guru harus pandai dalam memilih pendekatan tersebut. Dengan pendekatan guru akan mudah melakukan kegiatan belajar mengajar atau mempengaruhi peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar. Ketika guru tidak melakukan pendekantan kepada para peserta anak didik maka akan menghadirkan rasa jenuh, bosan, bahkan merugikan anak didik.
Setiap guru tidaklah sama dalam memberikan penilaian terhadap peserta anak didik. Karena pendekatan yang dilakukan oleh guru tidak sama pula. Dalam penilaian, guru memiliki kebijakan sendiri dan  wewenang terhadap peserta didik. Kadang ada guru menilai peserta anak didik dengan sikapnya, intelektualnya bahkan kemapuan yang dimiliki peserta anak didik. 












STRATEGI PEMBELAJARAN TERHADAP PESERTA DIDIK

TUGAS INDIVIDUAL

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Pengembangan Kepribadian Guru PAI
Diampu oleh : Fathol Khaliq, M.Si

Disusun Oleh  :
MOH.MA`RUF,RAMADHAN
18201201010143


LOGO STAIN.jpg
 













SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI  PAMEKASAN
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
2012/2013
Di kelas ada kelompok anak didik. mereka duduk dikursi masing-masing. Mereka berkelompok dari dua sampai lima orang. Di depan mereka ada meja untuk membaca dan menulis atau untuk meletakkan fasilitas belajar. Mereka belajar dengan gaya yang berbeda-beda. Perilaku mereka juga bermacam-macam. Cara mengemukakan pendapat, cara berpakaian, daya serap tingkat kecerdasan, dan sebagainya, selalu ada fariasinya. Masing-masing anak didik memang mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dari satu anak didik dengan anak didik lainnya.
Karakter peserta anak didik tidak sama dengan anak didik  lainnya, sehingga dalam perbedaan tersebut tibul cara berfikir yang fariasi pula, bahkan, cara berpendat atau melakukan bermacam kegiatan tidak sama dengan lainnya. Miskipun, mereka sama-sama satu ruangan dengan yang lain tapi ada gaya tersendiri yang di lakakukan perindividu. Kebergaman yang seperti ini akan menghadirkan pengalaman baru bagi teman-teman sebayanya.
Fasilitas yang sudah memadahi terhadap kegiatan belajar mengajar memang kebutuhan para peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar. Miski, perlengkapan itu di penuhi tipi guru tidak melakukan pendekatan secara pendekatan individu, maka, anak didik merasa tidak diawasi atau di jaga oleh guru.

Perbedaan individual anak didik tersebut memberikan wawasan kepada guru bahwa strategi pengajaran harus memperhatikan perbedaan. Paling tidak dengan pendekatan individual dapat  didik pada aspek individual ini. Dengan kata lain, guru harus melakukan pendekatan individual dalam strategi belajar mengajarnya. Bila tidak, maka strategi belajar tuntas atau mastery learning yang menuntut penguasaan penuh kepada anak didik tidak pernah terjadi kenyataan. Paling tidak dengan pendekatan individual dapat diharapkan kepada anak didik dengan tingkat penguasaan optimal.
Dalam kegiatan belajar mengajar guru harus memiliki strategi dalam mengajar. Karena, strategi akan mengatarkan guru kepada kekondusivan dikelas. Melalui perbedaan-perbedaan yang dimiliki peserta anak didik guru akan mampu melakukan pendekatan terutama pendekatan secara induvidual. Ada beberapa anggaban bahwa strategi tidak berguna tanpa adanya metode. Sebenrnya, strategi dan metode tidak dapat dipisahkan satu kesatuan yang saling membutuhkan untuk melakukan pendekatan kepada peserta anak didik.
Peserta anak didik memiliki keragaman dalam mengembangkan bakatnya atau kemampuannya. Sehingga, dalam strategi yang digunakan oleh seorang pendidik harus memperhatiakan atas perbedaan yang dimiliki peserta didik. Bahkan guru harus selalu melihat perubahan-perubahan yang dialami oleh peserta didik.
Pada kasus-kasus tertentu yang timbul dalam kegiatan belajar mengajar, dapat di atasi dengan pendekatan individual.  Misalnya, untuk menghentikan anak didik yang suka bicara. Caranya dengan memisahkan/memindahkan salah satu anak didik tersebut pada tempat yang berpisah dengan jarak yang cukup jauh. anak didik yang suka bicara ditempatkan pada kelompok anak didik yang pendiam.
Strategi yang dilakukan oleh guru harus mampu memberikan pencernaan terhadap peserta anak didik dan menanamkan rasa kepeduliannya terhadap keragaman yang dimiliki oleh peserta didik lainnya. Bahkan dalam kasus-kasus yang dimiliki oleh peserta didik akan dijadidikan pembelajaran terhadap peserta didik lainnya.
Langkah-langkah apa yang harus dilakukan seorang guru terhadap muridnya ketika ada murid keluar  dari konteks pelajaran, disini guru harus mampu memberikan wacana baru agar peserta didik tidak mengulang kesalahan yang sudah dilakukan. Misalkan dalam kasus, ketika murid berbicara selalu .melakukan kegiatan lain ketika pelajaran dimulai maka guru harus meluruskan agar tidak menggagu terhadap pesrta anak didik lainnya. 

Judul Penelitian


A.     Judul Penelitian
            ”Pengaruh Pendidikan Agama Islam Terhadap Pembentukan Akhlaqul Karimah Anak Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Faizin  Desa Taro’an  Tlanakan Pamekasan”

B.     Latar Belakang Masalah
                  Agama Islam telah mengajarkan kepada semua pemeluknya, agar dirinya menjadi manusia yang berjiwa suci dan luhur, memiliki kepribadian yang mulia. Lebih dari itu agar menjadi manusia yang berguna, bagi dirinya, serta orang lain. Ia benar-benar dapat menghiasi dirinya dengan sifat kemanusiaan yang sempurna, menjadi manusia saleh, dalam arti yang sebenarnya, selalu menjaga kwalitas kepribadiannya yaitu sesuai dengan tuntunan Allah SWT. dan Rasul-Nya.
                  Rasulullah diutus ke dunia ini dengan misi untuk menyempurnakan akhlak Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi: ”sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”, sehingga Syauqi beik menyatakan dalam kata-kata hikmahnya: ”sesungguhnya umat dan bangsa itu sangat tergantung pada akhlaknya. Jika baik, maka akan kuat bangsa itu. Jika rusak, maka akan hancur bangsa itu”.[1] Dan juga agar dapat dijadikan sebagai suri teladan bagi umat manusia. Karena itu, diri Nabi telah dilengkapi dengan sifat-sifat yang benar dan terpuji. Seperti: berani, jujur, menepati janji, sabar, pemaaf, pemurah, ikhlas dan sebagainya. Ia telah terpelihara dari sifat-sifat tercela.
                  Sebagai manusia biasa sulit kiranya kita dapat mengikuti atau meniru akhlaq dan sifat-sifat Nabi secara keseluruhan dan utuh, namun sebagai umat muslim dan mukmin seyogyanya kita berusaha untuk mencontoh akhlaq dan sifat-sifat yang baik dari Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana firman Allah SWT. dalam surat al-Ahzab, ayat 21: yang artinya:
                  Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.[2]                   Berangkat dari uraian tersebut maka untuk mencetak kader-kader bangsa yang berkarakter baik dan berbudi luhur serta berakhlaq mulia, maka keberadaan pendidikan agama Islam cukup berperan untuk menentukannya.
                   Oleh karena itu, peran guru agama Islam di sekolah sangat berpengaruh dalam pembinaan karakter/kepribadian siswa yang di didiknya. Sebab materi pendidikan agama yang diajarkan lebih sering menyentuh masalah moral dan perilaku manusia baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Dalam hal ini, guru agama diharapkaan dapat mengembangkan setiap potensi positif yang dimiliki oleh  siswa, baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik, sehingga dapat terbentuk manusia paripurna atau al-insan kamil.
tidak ada alasan bagi para guru agama untuk mengabaikan masalah kontekstualisasi pengajaran agama agar para siswanya dapat menyerap esensi dari ajaran agama tersebut dengan baik dan benar. Dengan demikian, penafsiran al-Qur'an secara kontekstual sangat diperlukan, mengingat bahwa al-Qur'an diturunkan bukan saja untuk berdialog dengan orang-orang yang hidup di masa sekarang, maupun untuk orang-orang yang hidup di masa yang akan datang.[3]
            Karenanya, dari hal inilah penulis amat tertarik untuk membahas dan meneliti tentang sebuah permasalahan dengan judul pengaruh Pendidikan Agama islam terhadap pembentukan Akhlaqul Karimah Anak Madrasah Ibtidaiyah miftahul faizin desa Taro’an kec. Tlanakan pamekasan.

C.    Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang tersebut., maka kami ajukan rumusan masalah sebagai berikut:
1.   Adakah Pengaruh Pendidikan Agama islam terhadap pembentukan Akhlaqul Karimah Anak Madrasah Ibtidaiyah miftahul faizin desa Taro’an Tlanakan Pamekasan?
2.      Seberapa besarkah Pengaruh Pendidikan Agama islam terhadap pembentukan Akhlaqul Karimah Anak Madrasah Ibtidaiyah miftahul faizin desa Taro’an Tlanakan Pamekasan?

D.    Tujuan Penelitian
                  Setiap usaha yang dilakukan oleh seseorang pasti mempunyai tujuan. Begitu pula dengan penelitian ini. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan ingin mengetahui:
1.      Adanya Pengaruh Pendidikan Agama Islam terhadap pembentukan Akhlaqul Karimah Anak Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Faizin desa Taro’an Tlanakan Pamekasan.
2.      Besarnya Pengaruh Pendidikan Agama Islam terhadap pembentukan Akhlaqul Karimah Anak Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Faizin desa Taro’an Tlanakan Pamekasan.

E.   Kegunaan Penelitian
1.      Bagi MI Miftahul Faizin, sebagai aset pemikiran terhadap para guru dalam rangka memotivasi anak didik agar selalu aktif dalam segala bentuk kegiatan sekolah yang pada akhirnya dapat terbentuk akhlaqul karimah serta kondisi belajar yang mantap. Sehingga dapat dijadikan pedoman untuk memecahkan masalah demi kelancaran pendidikan.
2.      Bagi STAIN Pamekasan, sebagai tambahan khasanah keilmuan dan tambahan koleksi literatur perpustakaan.
3.      Bagi peneliti, sebagai bahan untuk menambah wawasan pemikiran dan pengalaman serta acuan dalam melaksanakan tugas pendidikan agama selanjutnya.

F.   Asumsi
          Yang maksud dengan asumsi yang sering disebut juga dengan anggapan dasar atau postulat adalah “…sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh  penyelidik.[4] Adapun asumsi yang diajukan penulis dalam penelitian ini ialah :
1.      Pendidikan agama islam merupakan kegiatan belajar yang dapat memberikan kemampuan anak didik agar dapat beriman dan bertakwa kepada Allah serta berakhlaqul karimah sehinga dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
2.      Akhlaqul karimah merupakan suatu perilaku yang sangat disenangi oleh semua  orang.

G. Hipotesis
Yang dimaksud dengan hipotesis adalah “…suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Pada umumnya hipotesis dinyatakan dalam dua bentuk, yaitu suatu hipotesis yang menyatakan tidak ada hubungan antara variabel yang dipermasalahkan (biasanya dilambangkan dengan Ho), dan suatu hipotesis yang menyatakan adanya pengaruh antara variabel bebas (minat belajar) terhadap varibel terikat (prestasi belajar) yang biasa dilambangkan dengan H1 Sehingga hipotesis pada penelitian ini dapat dirumuskan:[5]
.Sedangkan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
   Hipotesis Kerja (Ha)
1.     Ada Peranan Pendidikan Agama islam terhadap pembentukan Akhlaqul Karimah Anak Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Faizin desa Taro’an kec. Tlanakan kab. pamekasan.
2.     Peranan Pendidikan Agama Islam terhadap pembentukan Akhlaqul Karimah Anak Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Faizin desa Taro’an kec. Tlanakan kab. Pemekasan terkatagori cukup..

H. Ruang Lingkup
1.        Materi
a.   Tinjauan tentang Pendidikan Agama
b.  Tinjauan tentang Akhlaqul Karimah
c.   Peranan Pendidikan Agama terhadap pembentukan Akhalqul Karimah
2.   Lokasi
      Penelitian ini dilakukan pada Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Faizin desa Taroa’n Tlanakan Pamekasan, kelas IV, V dan VI semester I Tahun Pelajaran 2014/2015.

I. Definisi istilah.
            Definisi istilah ini dibutuhkan dalam rangka menyamakan pendapat terhadap makna/arti dari beberapa istilah yang ada dalam judul penelitian tersebut. Sehingga nantinya tidak akan terjadi kesalahan pemahaman terhadap judul penelitian ini. Ada beberapa istilah yang dipandang perlu didefinisikan antara lain:
1.      Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan yang berisi tentang ajaran-ajaran Islam yang dapat memberi kemampuan kepada seseorang untuk menempuh kehidupannya sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama Islam.
2.   Akhlaqul Karimah adalah tingkah laku atau perbuatan seseorang dalam kehidupannya sehari-hari yang bersifat terpuji.
J. Kajian Pustaka
1.      Tinjauan tentang pendidikan agama Islam
a.       Pengertian Pendidikan Agama Islam
            Pendidikan Agama Islam adalah sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupan sesuai dengan cita-cita Islam.[6]
            Dengan pengertian tersebut seorang muslim yang telah mendapatkan Pendidikan Agama Islam, harus mampu hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan sesuai yang diharapkan dan dicita-citakan Islam.
b.      Peranan Pandidikan Agama Islam.
1)      Membentuk kebiasan dalam melakukan ibadah serta berakhlaqul karimah.
2)      Mendorong dan menumbuhkan Iman yang kuat.
c.       Faktor yang Mempengaruhi Pendidikan Agama Islam
         Adapun faktor yang mempengaruhi terhadap pelaksanaan Pendidikan Agama Islam antara lain:
1)   Faktor Intern
         Yang dimaksud dengan faktor intern adalah “faktor yang ada pada diri anak sendiri yang dibawa sejak lahir”[7] Sedangkan faktor intern ini meliputi:
a)      Kondisi Fisologis (Jasmani)
b)      Kondisi Psikologis (Rohani)
2)      Faktor Ekstern
         Yang dimaksud dengan faktor ekstern adalah “faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan yang datangnya dari luar diri anak”[8] Adapun yang termasuk faktor ekstern ini adalah sebagai berikut:
                  a)   Faktor lingkungan
                  b)   Faktor Guru         
                  c)   Faktor Sarana dan Prasarana
2.   Tinjauan tentang Akhlaqul Karimah.
a.       Pengertian Akhlaqul Karimah
                  Secara bahasa (etimologi) akhlaqul karimah ini berasal dari bahasa Arab, yaitu jamak dari kata khuluqun  ( akhlaaqun ) yang berarti “budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabi’at”[9] dan Karimah yang berarti mulia, baik. Jadi yang dimaksud dengan Akhlaqul Karimah adalah budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabi’at yang mulia atau baik.       
                           Sedangkan secara definisi (terminologi)  akhlaqul karimah adalah “…suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendak mana berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan yang benar…”[10]           
b.   Faedah Akhlaqul Karimah
      1)   Meningkatkan derajat manusia                      
                  2)   Menuntun kepada kebaikan   
3)      Manifestasi kesempurnaan iman
4)      Keutamaan di hari kiamat
5)      Kebutuhan pokok dalam keluarga
6)      Membina kerukunan antar tetangga
7)      Membina akhlak remaja
8)      Membina akhlak dalam pergaulan umum
9)      Untuk mensuseskan pembangunan bangsa dan negara
10)  Kebaikan dalam kehidupan dunia
      c.   Usaha untuk Terciptanya Akhlaqul Karimah       
           Akhlaqul karimah mempuyai tujuan yaitu “…mempengaruhi dan mendorong kehendak kita, supaya membentuk hidup suci dan menghasilkan kebaikan dan kesempurnaan, dan memberi faedah kepada sesama manusia…”.[11] Dengan demikian akhlaqul karimah merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Baik menurut perkembangan jasmani maupun rohani, dapat berkembang  secara wajar dan seimbang, sesuai dengan ajaran agama Islam. Berarti manusia dituntut untuk berakhlaqul karimah/mulia. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya:
“Sebaik-baik kamu yaitu yang paling baik keadaan akhlaqnya”(HR. Bukhari Muslim).[12]
               Karenanya, untuk dapat terujud tujuan tersebut maka diperlukan adanya usaha-usaha agar tercipta akhlaqul karimah. Usaha-usaha tersebut antara lain:
1)      Adanya peringatan dan pengarahan yang baik
2)       Terujudnya lingkungan dengan kehidupan yang agamis
3)      Adanya teladan yang baik
3.      Peranan Pendidikan Agama terhadap pembentukan Akhlaqul Karimah 
            Dengan adanya pelaksanaan Pendidikan Agama (Islam) dengan baik maka berperan sekali dalam rangka terciptanya akhlaqul karimah. Peranan tersebut dapat diurai sebagai berikut:
a.   Mencetak anak berbudi luhur
b.      Anak selalu patuh pada orang Tua.
c.       Toleransi kepada sesama
d.      Menumbuhkan percaya diri
e.       Menumbuhkan semangat beribadah
f.       Meningkatkan kesadaran dalam melaksanakan ajaran Islam[13]
K. Metode Penelitian
      1.   Rancangan Penelitian  
         Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu menggunakan analisis data statistik. Sedangkan sifatnya adalah korelasi yaitu mencari hubungan antara variabel yang satu dan variabel yang lain.
         Karena termasuk katagori penelitian kuantitatif korelasi maka variabel yang dilibatkan dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu variabel X dan variabel Y. Yang termasuk variabel X adalah Pendidikan Agama islam dan variabel Y adalah Akhlakul Karimah. Artinya variabel X memberikan peranan terhadap variabel Y. Dalam hal ini menunjukkan bahwa Pendidikan Agama islam berperanan dalam rangka pembentukan Akhlaqul Karimah.
2.   Populasi dan Sampel
               Dalam penelitian ini menggunakan istilah populasi dan sampel dalam menentukan subyek  dalam penelitian ini. Yang dimaksud dengan populasi adalah “…keseluruhan subjek penelitian”.[14] Dalam hal ini yang menjadi subyek penelitian adalah seluruh anak Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Faizin Taro’an kec. Tlanakan Pamekasan dengan jumlah siswa keseluruhan adalah 160 orang. Karena termasuk katagori subyek jumlah besar maka diambil sampel. Yang dimaksud dengan sampel adalah “… sebagian dari subyek yang diteliti”.[15] Sampel yang digunakan adalah area sampling (sampel lokal), artinya yang menjadi subyek penelitian bukan keseluruhan kelas tetapi yang menjadi subyek penelitian dan yang akan diteliti hanya kelas IV sampai dengan kelas VI yang jumlah siswanya adalah 53 siswa, dengan rincian kelas IV berjumlah 17 siswa, kelas V berjumlah 20 siswa dan kelas VI berju mlah 16. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pelaksanaan penelitian, dan juga adanya pertimbangan penggunaan instrumen penelitian.
3.      Instrumen Penelitian
         Instrumen penelitian ini memakai instrumen angket sebagai instrumen primer/utama guna memperoleh data variabel X dan variabel Y. Adapun tehnik observasi, dokumentasi dan interviu adalah sebagai instrumen sekunder/ pendukung. Sedangkan variabel X yaitu: Pendidikan Agama islam, dengan indikatornya adalah: a. Aqidah b. Syari’ah c. Mu’amalah d. Sejarah. Sedangkan variabel Y yaitu: Akhlakul Karimah, dengan indikatornya adalah : a. Dermawan b. Suka menolong c. Ikhlas d. Jujur, e. Menepati Janji. Alternatif dari jawaban tersebut diberi kode a, b dan c dengan sekor a=3, b=2 dan c=1.
4.   Pengumpulan Data
                  Setelah pembuatan instrumen selesai, maka peneliti datang ke lokasi untuk menemui subyek penelitian yaitu siswa kelas IV, V dan VI sebanyak 53 siswa dengan menggunakan tehnik angket, sesuai dengan pedoman angket yang telah tersedia. Adapun pihak yang ikut membantu dalam pengumpulan data ini adalah 3 pihak yaitu: 1. Kepala Sekolah  2. Guru 3. Siswa. Sedangkan waktu pengumpulan data diatur sebagai berikut:
a.       Pengecekan dokumen yang ada di sekolah tanggal 03/10/14
b.      Pelaksaan penyebaran pedoman angket pada tanggal 06/10/14
c.       Pengambilan kembali jawaban angket pada tanggal 08/10/14
d.      Melakukan interviu kepada Kepala Sekolah dan Guru pada tanggal 13/10/14
e.       Penulisan hasil data penelitian pada tanggal 18/10/14
5.   Analisis Data
            Analisis data yang digunakan adalah analisis data statistik korelasi Product Moment. Karena data yang diperoleh dan akan dianalisis adalah berbentuk angka-angka. Sedangkan rumus yang dipakai adalah:

                                    S x y
                  rxy        =       ________________________


 

                                     Ö     (S x²)          (S y²)

        Keterangan :
rxy      =    Koefisien korelasi product moment.
Sxy   =    Jumlah dari hasil kali x dan y kecil.
S    =    Jumlah skor x kecil yang dikuadratkan.
S   =    Jumlah skor y kecil yang dikuadratkan








DAFTAR PUSTAKA

Afifuddin SK, Psikologi Pendidikan Anak Sekolah Dasar, Harapan Massa, Solo, 1988

Hussein Bahreisj, Hadits Shahih Bukhari Muslim, CV. Karya Utama, Surabaya, tt.
Muchlis solichin, mohammad. Pendidikan akhlak tasawuf . SUKA-press UIN sunan kalijaga. Yogyakarta, 2012.

Moh. Amin, Pengantar Ilmu Akhlaq, Express, Surabaya, 1987

M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1993.


Sihab.umar kontekstualisasi Al-quran Kajian Tematik atas Ayat-ayat Hukum dalam Al-Qur'an, Penamadani, jakarta, 2003.

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta, 1996

Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam, Sinar Baru Al-Gensindo, Bandung, 1996

W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1991.

Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen Agama, Jakarta, 1971.
  

                                   



[1] Mohammad muchlis sholichin, pendidikan akhlak tasawuf  (Yogyakarta: SUKA-press UIN sunan  kalijaga,2012), hlm., 67-68
[2]Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an, Al-Qur’an dan  Terjemahnya, (Jakarta:Departemen Agama 1971  hlm. 171
[3] Umar Shihab, Kontekstualitas Al-Qur'an: Kajian Tematik atas Ayat-ayat Hukum dalam Al-Qur'an. (Jakarta: Penamadani, 2003), hlm., 25.
[4] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta,1996) hlm.60

[5] Ibid.,hlm.67
[6] M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam,,( Jakarta:Bumi Aksara, 1993), hlm. 124
[7] Afifuddin SK, Psikologi Pendidikan Anak Sekolah Dasar (Solo:Harapan Massa,1988) hlm. 87
[8] Ibid. hlm, 95-96
[9] Moh. Amin, Pengantar Ilmu Akhlaq,(Surabaya: Express,1987) hlm.83
[10] Ibid. Hlm, 84
[11] Ibid. Hlm, 109
[12] Hussein Bahreisj, Hadits Shahih Bukhari Muslim,(Surabaya: CV. Karya Utama, tt) Hlm. 256
[13] Ibid. hlm, 256-257
[14] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitia,( jakarta: Rineka Cipta, 1996) Hlm. 45-46
[15] Ibid. hlm, 47